Hati vs Logika
Tulisan kali ini berkenaan dengan sesuatu yang ingin kuselesaikan segera, pertentangan antara hati vs logika. Sepertinya bukan aku saja yang mengalami dilema ini—kesulitan mengakurkan antara hati dan otak yang bertentangan—setiap orang sepertinya pernah merasakannya. Kali ini berusaha kujabarkan agar jelas duduk perkaranya, cieee…..!
Keduanya—hati dan logika—bermukim pada tempat yang sama, ragaku yang diamanahkan oleh Allah semenjak kelahiranku, meskipun begitu keduanya begitu bertentangan. Hatiku sungguh membujukku untuk mendengarkan dia, suara hati kecilku yang telah lama kuasingkan. Hatiku sungguh membuatku iri setengah mati. Ia begitu bebas bergerak tanpa bias aku kuasai, menunjukkan segala yang sudah pasti kusukai. Dan seolah berkata,jangan mengingkari kata hatimu Mand, Sesekali dengarkan aku, dengarkan aku dan kamu pasti bahagia. Meskipun demikian kuatnya dorongan itu, tetap saja kuabaikan. Kuanggap musuh yang wajib aku lawan untuk saat ini.
Sedangkan logikaku? Seperti biasanya tunduk pada segala aturan yang mengikatku, yang telah aku yakini sepenuhnya. Norma-norma sosial, aturan agama, tradisiku, juga etika yang aku pelajari sejak kecil, semua seolah menjadi pengawas yang tak pernah henti melihatku. Di atas segalanya, rasa malu kepada Allah, penyesalan, juga tekadku untuk tak mengulagi kesalahanku begitu kuat terpatri di hatiku. Mungkin tekad yang kupegang itu berada di satu sudut hatiku, tegak, sendirian dikelilingi oleh berbagai keinginan yang bertentangan dengannya. Namun ada pasukan lain juga, otakku senantiasa memaparkan segala untung-rugi, sebab-akibat yang akan kuperoleh jika aku begini dan begitu. Alasan logis juga sebuah tujuan mulia—masuk surga dan bertemu dengan orang yang kusayang—menahanku untuk mendengarkan suara hatiku.
Meski aku sudah mempunyai kecenderungan untuk tunduk pada logikaku, namun aku tetap saja tak bisa mengabaikan suara hatiku. Ia terus saja menggedor pintu-pintu kesadaranku, membuat jiwaku tak tenang. Ketika aku tetap mengabaikannya, ia pun dengan seenaknya masuk ke alam bawah sadarku. Dengan tenangnya tanpa bisa kucegah, ia merajai malamku dan mengusikku dalam mimpi. Aku tak bisa berkutik, ketenangan pun menghilang dari hidupku meski sebatas ketidaksadaran dalam tidurku. Saat aku terjaga, aku senantiasa berpikir dengan berbagai kemungkinan. Berusaha menimbang, mencoba menyelaraskan keduanya dengan berbagai kompromi yang aku temukan, tapi tetap saja keduanya kompak tak ingin bersatu. Tak ada yang ingin mengalah, semuanya ingin menguasaiku sepenuhnya atau tidak sama sekali.
Pertentangan yang terjadi dalam diriku inilah yang membuat diriku seakan kehilangan ‘jiwa’. Keduanya berjalan berlawanan arah dengan angkuhnya tanpa memedulikan aku yang menatap pertikaian mereka dengan raga tercabik, memelas dalam ketidakberdayaan yang sangat. Terdiam dan melihat jurang itu semakin lebar seorang diri. Tiba-tiba saja aku tidak bisa menjadi juri yang adil dan berlaku otoriter dengan mengabaikan salah satu pihak, hatiku sendiri. Aku berusaha menggunakan sisa energi yang ada untuk melangkah bersama dengan logikaku. Berharap kutemukan jalan kebenaran yang aku yakini.
Jeritan suara hati semakin memilukan, terus saja memasuki ruang mimpi, dan tak membiarkan aku tenang sedikitpun. Tapi aku tetap teguh pada pendirianku, menyakini apa yang aku yakini akan membawa jalan keselamatan bagiku ke depannya nanti. Ya, meski itu menyakitiku. Telah jelas hukum di dunia ini berlaku, segala sesuatunya membutuhkan pengorbanan. Dan aku memilih mengorbankan hatiku.
Aku begitu teguh dengan keputusan yang kuambil tapi tetap saja tak membuatku tenang. Aku tak ingin menuruti kata hati yang akan memperdayaku nanti. Senang di awal dan membuatku terpuruk di akhirnya. Dalam kedukaan yang tak bisa kujelaskan aku merasa tak memenangkan sisi manapun. Baik hati dan logika semuanya berjalan dalam ketidakpastian. Aku berjalan bagai zombie yang hanya patuh pada logika semata. Tak ada gerak nurani yang membuatku bergairah menjalani hariku. Hampa…. Itu yang kurasakan.
Logika pun berjalan tanpa ketenangan. Bagai mesin, ia berlaku begitu sistematis, pragmatis sesuai dengan aturan-aturan yang aku pilih. Dan aku pun merasa tak tenang. Gusti Allah, sampai kapan ini akan terjadi? Seandainya aku bisa menyuap salah satunya, mereka berkompromi dan ketenangan itu datang…. Oh alangkah bahagianya diriku.
Meski aku telah mengerti bahwa tak semua masalah yang kita hadapi bisa diselesaikan. Namun aku selalu merasa harus bisa menyelesaikan. Bukan karena aku merasa angkuh dan bisa, tapi persoalan menggantung yang ada akan membuatku tak fokus. Aku kan selalu merasa dihantui oleh masalah itu sampai masalah itu selesai. Ah ya…. Harusnya aku menyadari keterbatasanku sebagai manusia biasa. Harusnya aku memasrahkan pada Allah apa yang kualami, tidak bertanya, dan tetap menjalani hariku dengan jiwa yang penuh. Ah, kata harusnya ini seakan menghakimiku sendiri.
Dialog-dialog ini terus saja berlangsung dalam waktu yang tak bisa kuperkirakan. Allah, ajarilah aku untuk ikhlas…. Jadikanlah aku ridho dengan apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikanlah berkah apa-apa yang telah engkau tetapkan atas hidupku. Amin.
24 mei 2016
20:30
Note: Hatiku demikian tak tenang, jantungku terus saja berdegup, detaknya membuatku kian sendu dalam ketidakberdayaanku… oh Tuhan tolong lah aku, ampunilah hamba mu yang berdosa ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar